Donny Turang lahir di Manado dan besar di Tomohon, Sulawesi Utara - dua tempat dengan karakter yang berbeda, tapi sama-sama meninggalkan jejak: laut yang terbuka, dan pegunungan yang tenang. Ia memulai karier jurnalistiknya sebagai wartawan lapangan di era ketika koran masih menjadi raja informasi, dan deadline masih berbau tinta. Dari lapangan, ia menapaki berbagai posisi redaksional-redaktur, redaktur pelaksana, hingga wakil/pemimpin redaksi di sejumlah koran harian dan portal berita. Ketika era digital datang mengubah lanskap media, ia tidak memilih nostalgia. Ia belajar ulang. Mendirikan portal berita, memahami algoritma, mengutak-atik SEO, bahkan menyentuh dunia coding-membuktikan bahwa wartawan lama pun bisa beradaptasi, meski kadang sambil tersenyum kecut. Sebagai jurnalis, ia dinyatakan Kompeten pada jenjang Jurnalis Utama dengan Sertifikat Dewan Pers, melalui Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) yang diselenggarakan oleh AJI Indonesia Kota Manado. Kepercayaan komunitas jurnalis terhadap integritasnya tercermin dari sejumlah peran penting: pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Etik AJI Indonesia Kota Manado, dan Ketua Dewan Etik AMSI Sulawesi Utara-dua posisi yang tidak sekadar administratif, melainkan menuntut keberanian untuk menjaga batas, bahkan ketika batas itu tidak populer. Kini, Donny aktif menulis. Bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi merangkai pengalaman menjadi refleksi-tentang jurnalisme, perubahan zaman, dan hal-hal kecil yang sering luput tapi justru menentukan arah. Tulisan-tulisannya hadir dengan gaya ringan, observatif, dan sesekali jenaka-seperti percakapan yang tidak terasa menggurui, tapi diam-diam meninggalkan bekas. Buku ini adalah salah satu bukti sederhana: bahwa wartawan yang baik tidak hanya tahu cara menulis berita, tetapi juga tahu kapan harus berhenti... dan mulai bercerita. Ikuti Donny Turang di: Facebook: Donny Turang LinkedIn: Donny Turang Twitter/X: @Don