Beat the rise! Delivery fees are going up soon. INFO

Close Notification

Your cart does not contain any items

Dari Tinta ke Piksel

Donny Turang

$32.95   $29.80

Paperback

Not in-store but you can order this
How long will it take?

QTY:

Indonesian
Donny Turang
18 April 2026
Ada yang tidak berubah dari jurnalisme populer Indonesia, meski wajahnya telah berganti berkali-kali.

Dulu, koran kuning dijual di perempatan. Judulnya dicetak besar-besar, kadang dengan tanda seru yang berlebihan. Fotonya dipilih bukan karena informatif, melainkan karena mengejutkan. Pembaca membeli bukan hanya karena ingin tahu berita-tapi karena tertarik, terpancing, atau sekadar penasaran. Redaksi tahu itu. Dan mereka memanfaatkannya dengan sangat sadar.

Ketika internet datang, banyak yang berharap era sensasionalisme ikut berlalu. Kenyataannya berbeda. Logika koran kuning tidak mati-ia bermigrasi. Judul yang menggelegar kini hadir sebagai headline portal berita. Foto mengejutkan kini menjadi thumbnail video. Dan ""berita terlaris"" kini diukur bukan oleh oplah, melainkan oleh jumlah klik, share, dan waktu baca.

Dari Tinta ke Piksel: Jejak Koran Kuning di Era Digital adalah upaya untuk memahami perjalanan itu secara jujur dan menyeluruh.

Melalui delapan bab yang disusun secara naratif, buku ini mengajak pembaca menelusuri bagaimana pers populer Indonesia lahir dari kebutuhan pasar yang riil, tumbuh di tengah longgarnya regulasi pasca-Reformasi, lalu menghadapi tantangan terbesar dalam sejarahnya: platform digital yang mengubah cara orang mengonsumsi berita secara fundamental.

Buku ini tidak berdiri di menara gading. Ia ditulis dari dalam ruang redaksi-dengan ingatan tentang rapat meja redaksi yang panas, keputusan editorial yang tidak selalu mudah, dan tekanan tenggat waktu yang tidak pernah menunggu.

Di sinilah karakter-karakter seperti Pak Jansen, Ibu Lia, Om Ronny, dan Pak Ferdy hadir-bukan sebagai tokoh fiktif semata, melainkan sebagai cerminan dari wajah-wajah yang akrab dalam ekosistem jurnalisme Indonesia.

Pada saat yang sama, buku ini berdialog dengan riset dan kajian akademis-dari studi penyebaran misinformasi Vosoughi, Roy, dan Aral di Science, hingga laporan tahunan Reuters Institute tentang konsumsi berita digital global. Pergulatan antara praktik lapangan dan temuan akademis inilah yang membuat buku ini berbeda dari sekadar memoar atau sekadar kritik media.

Yang ditawarkan buku ini bukan jawaban tunggal atas pertanyaan ""apakah koran kuning itu salah?"" Ia menawarkan sesuatu yang lebih penting: pemahaman. Tentang mengapa sensasionalisme terus hidup, apa yang membuatnya menarik bagi pembaca, dan bagaimana jurnalisme yang bertanggung jawab bisa tetap relevan di tengah banjir informasi yang tidak pernah surut.

Untuk para jurnalis, mahasiswa komunikasi, pemerhati media, dan siapa saja yang pernah bertanya-tanya mengapa berita buruk selalu lebih mudah viral-buku ini ditulis untuk Anda.
By:  
Imprint:   Donny Turang
Dimensions:   Height: 216mm,  Width: 140mm,  Spine: 9mm
Weight:   172g
ISBN:   9798233127168
Pages:   144
Publication Date:  
Audience:   General/trade ,  ELT Advanced
Format:   Paperback
Publisher's Status:   Active

Donny Turang lahir di Manado dan besar di Tomohon, Sulawesi Utara - dua tempat dengan karakter yang berbeda, tapi sama-sama meninggalkan jejak: laut yang terbuka, dan pegunungan yang tenang. Ia memulai karier jurnalistiknya sebagai wartawan lapangan di era ketika koran masih menjadi raja informasi, dan deadline masih berbau tinta. Dari lapangan, ia menapaki berbagai posisi redaksional-redaktur, redaktur pelaksana, hingga wakil/pemimpin redaksi di sejumlah koran harian dan portal berita. Ketika era digital datang mengubah lanskap media, ia tidak memilih nostalgia. Ia belajar ulang. Mendirikan portal berita, memahami algoritma, mengutak-atik SEO, bahkan menyentuh dunia coding-membuktikan bahwa wartawan lama pun bisa beradaptasi, meski kadang sambil tersenyum kecut. Sebagai jurnalis, ia dinyatakan Kompeten pada jenjang Jurnalis Utama dengan Sertifikat Dewan Pers, melalui Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) yang diselenggarakan oleh AJI Indonesia Kota Manado. Kepercayaan komunitas jurnalis terhadap integritasnya tercermin dari sejumlah peran penting: pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Etik AJI Indonesia Kota Manado, dan Ketua Dewan Etik AMSI Sulawesi Utara-dua posisi yang tidak sekadar administratif, melainkan menuntut keberanian untuk menjaga batas, bahkan ketika batas itu tidak populer. Kini, Donny aktif menulis. Bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi merangkai pengalaman menjadi refleksi-tentang jurnalisme, perubahan zaman, dan hal-hal kecil yang sering luput tapi justru menentukan arah. Tulisan-tulisannya hadir dengan gaya ringan, observatif, dan sesekali jenaka-seperti percakapan yang tidak terasa menggurui, tapi diam-diam meninggalkan bekas. Buku ini adalah salah satu bukti sederhana: bahwa wartawan yang baik tidak hanya tahu cara menulis berita, tetapi juga tahu kapan harus berhenti... dan mulai bercerita. Ikuti Donny Turang di: Facebook: Donny Turang LinkedIn: Donny Turang Twitter/X: @Don

See Also